Tabrakan beruntun di KM 29 Ruas Tol Cipularang, Jawa Barat, Senin (11/11/2024) petang. (Foto: Dok SumatraLink.id/Republika.co.id) SumatraLink.id (REPUBLIKA NETWORK) – Tak ada yang terjadi di dunia ini selain atas kehendak Allah Subhanahu wata’ala (SWT). Bahkan, selembar daun yang gugur dari ranting pohon ke bumi, atas izin-Nya, apalagi musibah yang besar melanda manusia, semuanya harus dikembalikan kepada Yang Maha Kuasa. Musibah alam seperti banjir, longsor, gempa, badai, gunung meletus, dan juga musibah terkait kehidupan masalah manusia seperti kematian, kebakaran, kecelakaan, kesulitan hidup, dan lainnya tak lepas dari campur tangan Sang Khalik. Untuk itu, segala jenis musibah atau masalah yang meliputi anak Adam selayaknya dikembalikan lagi kepada yang menciptakan mahkluk yakni Allah SWT. Kepada siapa lagi kita memohon dan meminta pertolongan atas musibah dan masalah yang dihadapi kecuali kepada yang menguasai langit dan bumi. Bagi umat Islam, ada nasehat yang sangat mengagumkan dan menjadi pelipur lara bagi seorang yang ditimpa musibah. Aisyah Rodhiyallahuanha meriwayatkan, Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW) bersabda, “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seorang yang beriman sampaipun duri yang melukainya melainkan dengannya Allah akan mencatatnya sebagai satu kebaikan untuknya dan mengampuni dosa dosanya,” (HR. Muslim) Pada riwayat lain, “Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran, kesedihan, kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti, sampai duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Sangat jelas, bila disadari bahwa musibah atau masalah yang meliputi umat tak lepas dari ada hikmah dibelakangnya. Masalahnya, sebagian kita tidak menyadari hal itu, sehingga banyak yang tidak sadar ketika musibah terjadi bukan kembali kepada Allah SWT, tapi malah menyalahkan dan — bahkan buruknya — mengucapkan hal tidak sepantasnya kepada Allah SWT. Ada juga yang menyatakan, pascamusibah mereka mengulang kembali dengan kata-kata umum yang sia-sia; bila tidak dilakukan, jika tidak begini dan begitu, maka tidak akan terjadi seperti ini. Padahal, semua itu terjadi atas kehendak-Nya. Bukankah, hal itu sudah tercatat di kitab lauhul mahfudz saat kita berada di kandungan ibu. “Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, (QS. Al-Baqarah 156). Ucapan ini dinamakan kalimat Istirja’ yang artinya, “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali.” Hal ini yang menjadi pelipur lara bagi yang ditimpa musibah atau ujian. Dalam tafsir Ibnu Katsir, kalimat itu mendalam pengakuan diri bahwa ia milik Allah Ta’ala dan hamba-Nya. Dia memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Selain itu, mereka juga mengetahui bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan alaman mereka meski hanya sebesar biji sawi pada hari kiamat kelak. Setelah mengucapkan kalimat Istirja’, Nabi SAW mengajarkan untuk mengucapkan, “Allahumma jurnii fii mushibatii wakhluflii khairan minhaa (Ya Allah, berikanlah pahala dalam musibahku ini dan berikanlah ganti kepadaku yang lebih baik darinya).” Dari semua itu, hal terpenting dalam menghadapi musibah atau ujian baik kecil maupun besar yakni sabar dan shalat. “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.” (QS. Al-Baqarah: 45). Pada ayat ini, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk meraih kebaikan di dunia dan akhirat yang selalu didambakannya. Untuk meraih itu, dengan cara menjadikan musibah yang menimpa dengan kesabaran dan shalat sebagai penolong. Dengan sabar, maka kita dapat berpikiran tenang dan cerdas menyikapi semua yang terjadi yang dipandang manusia tidak baik menjadi baik dihadapan Allah SWT, begitu juga sebaliknya. “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS. Al-Baqarah: 156). Dengan melaksanakan shalat ketika musibah menimpa, maka ketenangan dan kewarasan dalam menerima musibah akan semakin diri kita yang lemah tiada daya, mampu mendekatkan diri kepada Allah SWT, yang menciptakan makhluk dan mengatur seisinya. “Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk,” (QS. Al-Baqarah: 157). Semoga kita semua diberikan kekuatan dalam menghadapi segala macam musibah yang terjadi dalam kehidupan dunia yang fana ini. Wallahu’alam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Rezeki Itu Sudah Tertakar, Tak Akan Pernah Tertukar Kandungan Surat Al-Kahfi: Melindungi Fitnah Akhir Zaman