SUMATRALINK.ID – Tiga perwira TNI menjadi saksi pembawa Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar. Mereka adalah Brigjen Amir Machmud (Pangdam V/Djajakarta), Mayjen Basuki Rachmat (Menteri Urusan Veteran dan Demobolisasi), dan Brigjen Moh Jusuf (Menteri Perindustrian Ringan). Mereka bertiga menyusul Sukarno ke Istana Bogor naik helikopter terkait isu gejolak di tubuh TNI AD. Dari ketiga jenderal Angkatan Darat (AD) tersebut, Brigjen Amir Machmud (AM), dinilai sangat berperan aktif dan menjadi saksi utama tercetusnya Supersemar dari Presiden Sukarno. Lawatan tiga jenderal ini setelah sowan dengan Pangkokamtib Letjen Soeharto, dinilai menentukan sejarah bangsa Indonesia ke depan, setelah peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Berikut secuil dialog AM dengan Sukarno di Istana Bogor yang dinukil Robert Edwar Elson dalam bukunya Suharto Sebuah Biografi Politik (2005). “Kau bilang aman, aman, tetapi demonstrasi berjalan terus,” kata Sukarno marah kepada AM, saat menanyakan situasi kepada tiga utusan tersebut. Amir Machmud Nyeletuk Diskusi masih berlanjut. Sukarno menanyakan lagi kepada tiga utusan tersebut, bagaimana mengatasi semua itu. Suasana hening sejenak. Basuki Rachmat sebagai perwira senior tidak menjawab, juga M Yusuf tidak berkomentar. “Alah gampang Pak. Bapak perintah saja sama Pak Harto. Bapak tahu beres. Yaitu Pancasila diamankan, Undang Undang Dasar 1945 diamanakan, Revolusi dilanjutkan, pembangunan dilanjutkan, dan keluarga bapak dijamin keselamatannya,” jawab AM. Pada akhirnya, AM mengakui ia sendiri heran kenapa berani nyeletuk demikian sebab secara adat ketimuran seharusnya yang menjawab perwira senior, sebagai perwira junior tidak pantas berbicara mendahului perwira senior yang ada saat itu. “Bentuk bagaimana?” tanya Sukarno mendesak. “Bentuk saja tim. Saya sarankan Pak Basuki Rachmat ketua tim. Pak Jusuf sebagai anggota, dan Brigjen Sabur sebagai sekretaris. Saya sendiri tak perlu duduk dalam tim, karena saya seorang panglima,” jawab AM tegas. Konsep Sukarno Diketik Saran AM diterima Sukarno. Meski ia tidak masuk tim, tapi dilibatkan dalam perumusan konsep yang ditulis tangan oleh Sukarno. Konsep rumusan selesai ditulis Sukarno. Ia baca berkali-kali dan akhirnya diserahkan ke J Leimana untuk dibaca ulang. Setelah itu disampaikan ke Soebandrio, dan mendapat koreksi darinya tapi tidak prinsipil, hanya koreksi redaksional. Konsep rumusan Sukarno diterima dari Soebandrio. Sukarno membaca ulang lagi konsep tersebut. Lalu, memerintahkan Brigjen Sabur mengetiknya, dan kemudian diserahkan lagi ke Sukarno lagi. Tapi, Sabur mengatakan kepada Sukarno, surat perintah tersebut tidak sah karena dari halaman satu ke halaman kedua tidak ada kata-kata penghubung di bagian bawah halamannya. “Sayang sekali, di saat revolusi kita masih memikirkan rincian administratif. Serahkan saja itu kepada Bung Karno,” kata AM menanggapi koreksi Brigjen Sabur terkait tidak ada kata-kata penghubung dalam surat. Dengan sangat tenang dan seksama, surat yang sudah diketik Sabur tersebut dibaca ulang lagi. Lalu, beliau bertanya; “Jadi, saya tanda tangan atau tidak?” kata Sukarno. Pertanyaan penegasan ini, Sukarno ulangi beberapa kali kepada AM. “Lakukan saja Pak, dengan nama Allah SWT,” kata AM. Pemindahan Kekuasaan Semua mengucapkan dengan nama Allah SWT, akhirnya Sukarno menandatangani naskah tersebut dan memberikannya kepada Basuki Rachmat. Ketiga perwira tersebut pulang dari Istana Bogor ke Jakarat melalui jalan darat dengan mobil. Di tengah perjalanan, AM meminjam naskah dari Sukarno tersebut dan berusaha membacanya di tengah kegelapan malam dengan lampu senter. Setelah membacanya. “Wah, wah… Ini pemindahan kekuasaan,” kata AM sedikit berteriak di dalam mobil menuju Jakarta. Padahal, ketiga jenderal tersebut tak terlintas sedikitpun untuk memikirkan dan membayangkan situasi pemindahan kekuasaan seperti itu. Dokumen bersejarah itu diserahkan ke rumah Soeharto. Tapi, Soeharto berada di Markas Kostrad sedang menerima para panglima kodam dari daerah-daerah. Dokumen itu diserahkan Basuki Rachmad kepada Soeharto. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Mengenang Gempa Liwa 32 Tahun Silam