DERU lengkingan suara knalpot motor trail, memecah kesunyian alam Suoh. Menggapai keindahan natural daerah ini, memerlukan ekstra tenaga. Tak jarang, banyak pengunjung harus rela bermalam di sela-sela bukit, gara-gara cuaca tidak bersahabat. Suoh, merupakan satu dari 14 kecamatan di Kabupaten Lampung Barat (Lambar), Provinsi Lampung. Wilayahnya terisolasi, karena akses berupa infrastruktur jalan maupun komunikasi tak optimal. Meski jalan tembus sudah dibuka, namun hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Itu pun harus bertarung dengan alam. Tanah liat bercampur lumpur, ditambah bukit yang terjal dan curam, menjadi pemandangan sehari-hari. Menjelajahi keajaiban bumi Suoh. (Foto: Mursalin Yasland) Kampung Suoh, dapat ditempuh dari Kabupaten Lambar dan Tanggamus. Dari Bandar Lampung (ibukota Provinsi Lampung) menuju Liwa (ibukota Kabupaten Lambar berjarak 246 km). Namun, berhenti sebelumnya di Kecamatan Sekincau (7 km dari kota Liwa). Baca juga: Asyiknya Jelajah Bukit Suoh dengan Motor Jarak tempuh Sekincau ke Suoh (Desa Sumberagung) hanya 32 km, sekitar sejam bila menggunakan motor, itu pun bila cuaca baik. Namun, medan jalan setapak tanah liat bercampur lumpur, dan perbukitan menjulang, disertai jurang yang curam menganga, apalagi cuaca hujan dan berkabut perjalanan bisa memakan waktu tiga jam. Satu-satunya alat angkut hanya motor trail atau motor yang sudah dimodifikasi. Kalau sebelumnya, jalur tersebut pernah dilintasi mobil jenis jeep dimodifiasi khusus off road. Mengingat medan jalan semakin berbahaya, maka tidak ada lagi yang berani lewat. Mendaki bukit dengan motor trail. (Foto: Mursalin Yasland) Untuk hilir mudik, warga menggunakan jasa ojek. Ongkosnya Rp85 ribu hingga Rp100 ribu per orang sekali angkut. Kadang bergantung cuaca. Bila habis hujan turun, banyak tukang ojek enggan turun melintas. Meski ada yang mau, tarifnya pun sudah tinggi. Soalnya, bekal berangkat harus ekstra. Sebab, siapa tahu di tengah jalan harus bermalam menanti matahari pagi. Bila berangkat pagi, dari puncak bukit, kejauhan terlihat indah semburan asap dari ladang-ladang panas bumi (geothermal) di kampung Suoh. Selain itu, terlihat pula keindahan danau tiga warna yang letaknya tidak berjauhan, yakni Danau Asam, Danau Lebar, dan Danau Belibis. Pemandangan indah nun jauh di sana belum seberapa, bila tidak mendekatinya. Menarik tali menyeberang sungai. (Foto: Mursalin Yasland) Di pertengahan perjalanan, bertemu Sungai Suoh dengan lebar sekira 10 meter. Penumpang maupun kendaraan harus menyeberang menggunakan rakit yang sudah disiapkan penduduk setempat. Tarif yang ditetapkan tukang penarik rakit dengan tiga awaknya sebesar Rp2.000 per orang sekali menyeberang, begitu juga sebaliknya. Setiba di Kecamatan Suoh, untuk menjangkau ladang-ladang panas bumi dan danau tiga warna, masih memerlukan waktu 1,5 jam lagi. Jalan yang dilalui tidak lagi curam, menanjak, apalagi penuh jurang. Tapi, tetap menggunakan motor trail dengan dua ban dililit rantai. Sebab, jalannya hanya setapak dipenuhi lumpur. Memandang danau tiga warna di Suoh. (Foto: Mursalin Yasland) Terdapat sebuah sungai lagi dengan arus yang cukup deras, harus diseberangi. Di Sungai Semangka ini pun menggunakan jasa rakit. Tarifnya pun sama dengan jasa rakit sebelumnya. Di wilayah ini, sangat jarang warga atau pun ojek melintas. Bila bertanya dengan tukang ojek, mereka rata-rata menjawab belum pernah masuk kawasan panas bumi. Baca juga: Meraup Rezeki dengan Rakit Sungai Suoh Selintas wilayah Suoh, berdasarkan data yang diperoleh hanya kampung kecil 231,62 hektare. Sekitar 77,55 persen diliputi hutan dan semak belukar. Penduduknya 39.549 jiwa yang menempati areal 3,68 persen. Mata pencariannya 93,98 persen pertanian (sawah, kopi, jagung, dan lada). Masyarakatnya pun banyak pendatang. Kecamatan Suoh memiliki belasan desa. Tidak ada yang menarik dari Suoh, yang lokasinya terletak di lembah pegunungan. Udaranya cukup panas bila siang hari dan dingin bila malamnya. Ternyata, ketidakmenarikan kampung ini, menyimpan potensi alam yang luar biasa, atas kekuasaan Allah SWT. Semburan air panas bumi Suoh. (Foto: Mursalin Yasland) Di Dusun Kalibata, Desa Sukamarga, Kecamatan Suoh, bau belerang sudah menyengat hidung. Terdapat 13 titik ladang panas bumi (geothermal) bertebaran tak menentu, sembari menyemburkan percikan air mendidih bercampur lumpur. Menurut Bupati Lambar (waktu itu) Erwin Nizar, panas bumi di empat titik (Way Suoh, Way Ratu, Danau Lebar, dan Danau Minyak) tersebut mampu menghasilkan 330 Megawatt. “Bila sudah diproduksi, mampu mengatasi krisis listrik di wilayah Sumbagsel,” kata Erwin Nizar di Liwa, Lambar kala itu. Tinggi percikan airnya yang mencapai dua meter, membuat indahnya pemandangan alam tersebut. Asap pun mengepul dari sela sela lumpur belerang. Tak heran, suhu di sekitar ladang ini cukup panas. Menjejak kaki di hamparan air belerang panas bumi. (Foto: Mursalin Yasland) Keindahan memandangi ladang panas bumi, yang jarang terjadi ini, membuat keeksotikan dan ekslusifnya alam Suoh. Sayang, keindahan sumber daya alam ini, belum tergarap maksimal baik sebagai energi alternatif terbarukan maupun tempat wisata alam yang menakjubkan. Mendekati ladang panas bumi yang terbesar, kita harus menempuhya dengan beralas kaki. Bekas-bekas semburan belerang di hamparan tanah cukup panas, dan tak jarang di bawahnya masih terdapat sumur-sumur panas bumi. Kalau tidak hati-hati menginjakkan kaki di pinggiran tanah yang keras, akan terperosok ke sumur panas tersebut. Bagi yang sering melewati daerah ini, banyak yang memanfaatkan untuk membasahi kaki dan mukanya dengan air yang sudah bercampur belerang. Tujuannya, untuk mengobati segala bentuk penyakit kulit. Di sekeliling ladang-ladang panas bumi, terdapat danau-danau yang lebar, dengan warna yang beragam. Lagi-lagi, danau-danau ini belum juga tergarap maksimal untuk keperluan manusia, apalgi pariwisata. Indahnya warna air danau, sungguh membuat takjub pengunjung. Beratnya medan jalan yang harus ditempuh, membuat masih sepinya kampung Suoh kini. (*) *) Mursalin Yasland/Wartawan Republika. Tulisan ini disadur dari koran Republika Edisi Juni 2006, disertai penambahan foto-foto dokumentasi. Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Jemur dan Giling Biji Kopi Asyiknya Jelajah Bukit Suoh dengan Motor