Pondok pesantren.Ilustrasi: Santri putri pondok pesantren. (Foto: AI/Sumatralink.id)

MIRIS, miris sekali kinerja polisi kita hari ini…!!! Kasus pembakaran warung mi babi di Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 12 September 2026), berdampak pada santri putri Pondok Pesantren (Ponpes) Ma’had Hamalatul Qur’an di Mojolaban, Sukoharjo.

Santri putri (terdapat anak-anak lagi) penghafal (tahfidz) Al-Quran sedang tidur dini hari digerebek. Aparat polisi masuk area santri putri yang dalam aturan ponpes sangat dilarang, siapa yang tidak dikenal, apalagi mereka laki-laki.

Dalam todongan senjata api laras panjang, aparat Brimob menggeledah seisi ruangan dan memaksa santri putri membuka hijab (kerudung) hanya ingin melihat rambut, lalu diseret ke kantor polisi.

Jelas mereka (santri putri, apalagi masih anak-anak) trauma. Melihat situasi dan kondisi seperti itu, lagi tidur, dikejutkan aparat berseragam dengan senjata. Mereka hanya menikmati sekolah dengan bersama Al-Quran, kitab suci umat Islam. Tapi diperlakukan seperti binatang tanpa adab. Binatang saja tidak begitu caranya. Jelas perlakuan ini biadab.

Alih-laih mau menangkap pelaku kasus pembakaran, setelah mengobrak-abrik ruangan dan memeriksa para santri putri yang masih anak-anak belum dewasa, tidak terbukti. Apakah hanya sebatas ini kinerja polisi dengan daya dukung sumber daya manusia dan perangkat sistemnya dalam bekerja?

Ironisnya, setelah tidak terbukti aparat mengembalikan para santri putri juga anak-anak kepada pengelola pondok. Tapi, apa lacur? Segerombolan aparat bersenjata api laras panjang ini justru hanya menemukan senjata tajam (sajam) dan busur panah di ponpes.

Bicara barang bukti sajam dan busur panah di pesantren, jadi sangat lucu dan aneh. Jangankan di pesantren, di rumah-rumah orang miskin saja dan apalagi orang kaya sudah pasti ada sajam dengan berbagai aksesorisnya. Lalu, dengan ditemukan sajam di rumah, mereka disangka atau diduga pelaku kejahatan?

Nah, soal busur panah. Jadi teringat beberapa waktu lalu kami pernah main panah-panahan di rumah dengan busur panah standar olahraga. Artinya, busur panah beserta anak panahnya, adalah hal biasa dalam olah raga panahan.

Lalu, bagaimana di pesantren dengan ada busur panah? Hampir setiap pesantren menyediakan busur panah dan anak panah sebagai olahraga panahan. Di belakang rumah saya juga ada pesantren, kalau akhir pekan mereka biasa latihan memanah.

Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW) menganjurkan umatnya untuk berenang, memanah, dan berkuda. “Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan menunggang kuda,” (HR. Thabrani dan Baihaqi).

Dalam hadist lain, Nabi SAW bersabda, “Memanahlah dan berkudalah, dan memanah lebih aku sukai daripada berkuda,” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Artinya, dalam ajaran Islam; berenang, memanah, dan berkuda bagian dari ibadah ghoiru mahdhoh selain ibadah mahdhoh (ibadah rutin). Ketiga cabang olahraga itu dalam rangka melatih fisik dan ketajaman insting terhadap sesuatu tujuan.

Kembali kepada penggerebekan aparat yang sewenang-wenang dan semaunya ini, saya jadi teringat ketika menyekolahkan kedua putri di pesantren putri. Betapa ketatnya para orangtua khususnya lelaki untuk masuk lingkungan pesantren. Para orangtua dan tamu terjaga di pintu gerbang pondok, dan harus melalui izin terlebih dahulu.

Tak hanya bapak atau saudara lelaki, seorang ustadz lelaki termasuk mudir (kepala sekolah) lelaki juga tidak sembarang berlalu lintas di lingkungan pondok. Intinya, lingkungan pesantren putri sangat steril dari laki-laki, apalagi yang tidak dikenal.

Bahkan, ketika ada pembangunan gedung lokal saja, para tukang lelaki juga sudah dibatasi ruang geraknya di dalam pondok. Termasuk para santri putri pun ketika ada pembangunan dengan membawa tukang laki-laki, lebih banyak di kamar dan ruang kelas, tidak berkeliaran di luar.

Saking ketatnya aturan pondok putri ini, tujuan baik. Visi dan misi pondok untuk memuliakan harkat dan martabat perempuan/wanita. Bukankah, perempuan kelak akan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Dari rahim para ibu ini secara umum juga nantinya melahirkan generasi taat agama dan mengabdi kepada bangsa dan negara yang beradab dan berilmu.

Tapi, dilalahnya justru santri putri anak-anak pondok penghafal Al-Quran menjadi target mereka. Ada apa dengan polisi kita hari ini? (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *