Ilustrasi aktivitas ibadah seseorang. (Foto: Republika.co.id/Edwin Dwi Putranto)
Ilustrasi aktivitas ibadah seseorang. (Foto: Republika.co.id/Edwin Dwi Putranto)

SumatraLink.id – Lafadz Basmallah, Bismillahi rohmaanirrohiim (dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) atau Bismillah (dengan Nama Allah) saja, sepintas bagi kita mudah dibaca dan mudah diingat tapi sering kelupaan dalam aktivitas sehari-hari.

Padahal, menyebut lafadz basmallah di setiap awal pekerjaan kita baik dalam hal ibadah maupun terlebih soal dunia sangat bermakna untuk kelancaran dan kesuksesan aktivitas sehari-hari.

Bukankah yang menciptakan langit dan bumi, serta makhluk hidup lainnya adalah Allah Subhanahuwata’ala (SWT). Allah SWT yang menguasai kerajaan langit dan bumi beserta isinya. Sungguh, sangat hina dan tidak berdaya sama sekali manusia sebagai hamba-Nya, tanpa mendapat pertolongan Allah SWT.

Dalam aktivitas keseharian seorang muslim, mengawali pekerjaan dengan membaca basmallah sangatlah utama. Dengan menyebut Nama Allah SWT, secara sadar kita memohon perlindungan dan keselamatan serta ampunan hanya dalam genggaman-Nya, yang menguasai kehidupan ini.

Kita berlindung kepada Allah SWT dari kejahatan diri sendiri dan kejelekan amal-amal kita. Siapa pun yang Allah SWT beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkan, dan siapa pun yang Allah SWT sesatkan, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk atau hidayah.

Dalam hal ibadah, ketika mendirikan shalat, sebelum sah dan sempurnanya shalat didahului dengan berwudhu. Di saat memulai wudhu disunnahkan membaca basmallah.

Dalam kitab Musnad Imam Ahmad dari Abu Hurairah Rodhiyallahuanhu (RA), Sa’id bin Zaid dan Abu Sa’id, bahwa Nabi Muhammad Sholallahu’alahi wassalam (SAW) bersabda, “Tidak sempurna wudhu’ bagi orang yang tidak membaca nama Allah (basmallah) padanya,” (Hadist hasan).

Baca juga: Jangan Sepelekan Kalimat Ta'awudz

Begitu juga setiap kita membaca ayat-ayat atau awal surat dalam Al-Quran diawali dengan basmallah kecuali Surat At-Taubah. Dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir, lafadz basmallah lengkap, para sahabat membuka kitabullah dengan bacaan lengkap basmallah. Para ulama sepakat basmallah salah satu ayat dari Surat An-Naml.

Tetapi mereka berbeda pendapat, apakah basmallah itu ayat berdiri sendiri dan ditulis pada awal setiap surat, ataukah ia merupakan salah satu ayat dari setiap surat, atau ia merupakan bagian dari Surah Al-Faatihah dan bukan dari surat-surat lain. Ataukah ia ditulis di awal surat hanya untuk pemisah antara surat semata, dan bukan merupakan ayat. Ada perbedaan pendapat dikalangan ulama salaf dan khalaf.

Ketika hendak masuk kamar mandi atau toilet, disunnahkan membaca basmallah lalu berdoa. Seperti diketahui, tempat yang paling banyak berkumpul makhluk ghaib dari kalangan bangsa jin yakni di kamar mandi atau toilet.


Dalam hal keduniawiaan, aktivitas manusia tak terlepas dan selalu mengikat kepada sang pencipta. Disunnahkan melafadzkan basmallah ketika hendak makan dan minum. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ucapkan bismillah, makanlah dengan tanganmu dan makanlah makanan yang dekat darimu,” (Hadist Shahih Muslim).

Manusia dalam beraktivitas tak lepas dari masalah, cobaan, ujian, tantangan, dan musibah. Semua itu kerap akan seiring dengan pekerjaan manusia. Penghalang utama dari setiap insan yakni setan yang tidak puas per detik selalu menggoda dan menyesatkan manusia ke jalan salah dengan iming-iming yang menggiurkan.

Sangat disunnahkan atau dianjurkan, sebelum memulai pekerjaan apapun dalam kebaikan diawali dengan melafadzkan basmallah. Ketika membaca basmalllah mulai dari awal pekerjaan atau aktivitas apapun dalam lindungan Allah SWT, kelancaran aktivitas hingga kesuksesan secara langsung melibatkan Sang Pencipta: Dia Maha Hidup dan Dia Maha Mengetahui.

Ketika seseorang telah mengawali setiap pekerjaan dengan melafadzkan basmallah, yang pada akhirnya tidak sesuai dengan harapan dan keinginan kita, maka hal tersebut sudah disebut dengan qodarullah (kehendak Allah SWT). Manusia hanya bisa berbuat, sedangkan Allah SWT yang menentukan.

Bukankah, keaktivitasan manusia bila disertai dan melibatkan Allah SWT dalam semua hal akan berdampak kebaikan. Kebaikan disini, tidak saja hanya mengikuti kebaikan yang diidamkan seseorang. Boleh jadi, menurut kita baik, belum tentu menurut Allah SWT baik, sebaliknya menurut kita jelek, menurut Allah SWT baik.

Baca juga: Bila Iman Menurun, Apa Terapinya?

Setelah berserah diri kepada Yang Maha Kuasa dalam setiap pekerjaan kita, maka apa pun yang terjadi pada akhirnya adalah kehendaknya. Manusia hanya bisa berikhtiar, sedangkan hasil biarlah Allah SWT yang menentukan.

Teringat dengan kisah Siti Hajar berlari-lari dari Bukit Safa ke Marwah dan sebaliknya di padang pasir yang panas terik sebanyak tujuh kali putaran, hanya untuk mencari pertolongan karena sudah kehausan sedangkan bekal ibu dan anak bayinya habis.

Ikhtiar Siti Hajar istri Nabi Ibrahim ‘Alaihiwassalam bersama anaknya Ismail, yang sekarang ritual ibadahnya diamalkan jamaah pada saat haji dan umroh, membuahkan hasil dengan munculnya air zam zam di sekitarnya. Artinya, ikhtiar tidak melihat hasil, namun ikhtiar tetap dijalankan hasil akan mengikuti. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland)