TAK banyak anak sekolahan menengah yang memiliki nilai 4K (kejujuran, kebenaran, kesantunan, dan keberanian). Joshepa Alexandra, akrab dipanggil kawannya Ocha, satu dari sekian anak SMA yang telah menunjukkan nilai 4K di hadapan publik se-Indonesia. Ocha, siswi SMA Negeri 1 Pontianak ini, dalam hitungan detik, langsung mengambil mic memprotes juri Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR final se Provinsi Kalimantan Barat, Sabtu lalu. Ia merasakan ada hal ganjil dengan penilaian dan alasan dewan juri atas jawabannya dinilai salah. Dalam hal ini, semua publik sudah tahu jawaban yang benar itu dari pihak Ocha, dan penilaian yang salah itu dari Dewan Juri, termasuk MC. Tapi, ada hal menarik dari tampilnya Ocha dalam ajang “cerdas cermat”, “cerdas tangkas”, “cepat tepat”, dan senamanya, yang notabene sudah berlangsung sejak zaman dulu. Momentum tersebut, setidaknya Ocha sudah meraih sekaligus atas nilai 4K tersebut. Hal ini sangat jarang terjadi kepada siapa pun, apalagi anak sekolahan. Biasanya, mental anak-anak, tidak semua, hanya beberapa yang memiliki bagian nilai 4K tersebut. Nah, kali ini Ocha telah membuktikan itu semua kepada publik (netizen) nusantara dari Sabang sampau Merauke. Viralnya video ajang Cerdas Cermat MPR-RI, majelis tertinggi di Negara Indonesia ini, menunjukkan negeri ini ada masalah, kalau tidak mau dikatakan akut masalah. Tentunya, ajang adu intelektualitas yang diselenggarakan MPR-RI ini tidak main-main. Semua dipersiapkan dengan matang, termasuk pembuatan soal dan jawaban, juga seleksi peserta dan dewan juri, dan termasuk MC-nya. Hal ini sangat wajar bila ajang ini sangat prestisius karena digelar di setiap provinsi menggunakan anggaran negara. Baca juga: Hard Landing Arinal Ocha, telah memukul wajah kita semua. Betapa masih kolotnya sebagian kita dalam menerima perbedaan dan pandangan ketika menyikapi suatu masalah. Meski, beliau masih anak-anak, tidak sepatutnya seorang yang “berkuasa” pada ajang itu, dewan juri masih menggunakan patron “ketetapan dewan juri tidak bisa diganggu gugat.” Faham lama, yang yang sudah terdoktrinasi sejak Orde Baru tersebut, seakan bagi yang “berkuasa” masih berlaku pada era keterbukaan informasi dan digitalisasi saat ini. Padahal, era kini, semua sudah mengalami disrupsi yang total, sehingga tak bisa lagi siapa pun “berkuasa” cukup mengatakan, “siapa yang memimpin sekarang?” “Apa kata penguasa?” Atau ada adagium lama yang konon masih dipakai orang-orang kolot saat ini yakni Pasal 1, pemimpin (penguasa) tidak pernah salah. Pasal 2, kalau pun salah, lihat Pasal 1 lagi. Ocha, siswi SMAN 1 Pontianak ini, tak gentar menghadapi Dewan Juri, yang berkuasa saat itu. Ia sangat jujur dan yakin benar. Sebagian anak sekolahan kalau sudah diputuskan tidak banyak menuntut apalagi protes, biarlah air mengalir saja. Paling setelah usai acara, berkeluh kesah. Tapi, tidak dengan Ocha. Ocha mengambil mic dan speak up. Tak menunggu lama, ia lantas responsif atas ketidakadilan pada dirinya yang disaksikan semua pihak. Menariknya, meski jiwa kejujuran dan kebenarannya sudah dimiliki untuk speak up, tetap ia mengedepankan nilai kesantunan. “Izin Dewan Juri?” kata pembuka protesnya. Adab yang ditampilkan Ocha, yakni kesantunan dan kesopanan dalam berbicara dan bertindak saat itu, tentu tidak banyak orang (biasa, tokoh masyarakat/agama, atau pejabat termasuk anggota dewan) yang mampu merealisasikan adab seperti ini, disaat kondisi kalut, terzolimi, atau terpinggirkan atas ketidakadilan. Jelas sebagian besar akan mengedepankan emosi terlebih dulu, bukan akal waras. Meski banyak yang memiliki nilai kejujuran, kebenaran, dan kesantunan, tapi kalau tidak memiliki keberanian, tentu tidak akan berarti apa-apa. Tapi, Ocha sudah meraup semua nilai 4K tersebut, sehingga publik hampir semuanya mendukung sikap dan tindakan Ocha dalam memprotes ketimpangan dan penyalahgunaan wewenang tersebut. Kita banyak belajar dan berkaca dari sikap Ocha, anak SMA yang telah “sukses” menampakkan sekaligus nilai 4K di hadapan publik se-Tanah Air, mulai dari rakyat biasa sampai petinggi negeri. Ocha tidak berpikir tentang hasil, tapi ia berharap ada keadilan, walaupun hasilnya nihil. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Hard Landing Arinal