SUMATRALINK.ID – Perkara shalat fardhu, kewajiban umat Muslim tanpa terkecuali dan dalam kondisi apapun. Shalat yang terbaik dikerjakan secara berjamaah terutama bagi laki-laki, karena pahalanya ditinggikan 27 derajat dibandingkan shalat sendirian. Abdullah bin Ummi Maktum Rodhyallahuanhu (ra), sahabat Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW), seorang buta, namun ia memiliki keimanan yang kuat dalam menjalankan syariat Islam. Saking kuatnya ketaatannya kepada Allah Subhanahu wata’ala (SWT), setan pun takut kepadanya. Dari Ibnu Ummi Maktum ini, keluarlah hadist tentang kewajiban shalat berjamaah. Dari Abu Hurairah ra, “Nabi SAW kedatangan seorang lelaki yang buta. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid.’ Maka ia meminta kepada Rasulullah SAW untuk memberinya keringanan sehingga dapat shalat di rumahnya. Lalu Rasulullah SAW memberinya keringanan. “Namun ketika orang itu berbalik, beliau memanggilnya, lalu berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mendengar panggilan shalat (Adzan)?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka penuhilah panggilan adzan tersebut.’” (HR. Muslim) Dari hadist ini, seorang yang buta saja tiada penuntun di jalan untuk menuju masjid ditekankan untuk memenuhi panggilan adzan, bagaimana dengan seseorang yang kondisi fisik dan psikisnya sehat dan segar bugar, tentu lebih utama lagi melaksanakan shalat berjamaah. Dalam Kitab Shahih Fiqih Sunnah karya Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (2006) menyebutkan, shalat jamaah memiliki keutamaan yang agung, karena Rasulullah SAW menganjurkan dan menerangkan dalam sejumlah hadistnya. Dari Ibu Umar ra, Nabi SAW bersabda, “Shalat jamaah lebih utama daripada shalat sendiri sebanyak 27 derajat,” (HR. Bukhari, Muslim). Dari Abu Said Al-Khudri ra, Nabi SAW bersabda, “Shalat bersama jamaah menyamai 25 shalat dan apabila dikerjakan di tanah lapang dengan menyempurnakan rukuk dan sujudnya maka menyamai 50 shalat,” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Al-Hakim). Selain meraih 27 derajat pahala, yang satu derajatnya sebanding antara bumi dan langit, maka siapa yang melangkah dan berjalan shalat fardhu jamaah di masjid/musholla, akan diangkat derajatnya dan dihapus dosanya. Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda, “Apabila berwudhu dan menyempurnakannya (di rumah), lalu keluar menuju masjid untuk shalat, maka tidaklah ia melangkahkan kakinya satu langka kecuali diangkat derajatnya, dan dihapuskan dosanya. Maka apabila dia engerjakan shalat jamaah, maka malaikat bershalawat atasnya selama belum selesai shalatnya,” (HR. Bukhari, Muslim). Masih banyak lagi fadhilah shalat berjamaah di masjid secara syariat (hablumminallah), dan tentu juga berdampak secara sosial untuk menjalin silaturahmi sesama manusia (hablumninannas). Bukankah dengan shalat berjamaah di masjid, dapat menambah kawan sesama muslim yang tadinya tidak saling kenal, dan dapat merasakan ada yang kurang bila ada jamaah lainnya tidak terlihat di dalam masjid. Dengan shalat berjamaah sebanyak lima waktu secara rutin di mana saja berada, akan terasa lain saat beribadah di rumah sendiri. Shalat fardhu lima waktu di masjid/musholla setelah panggilan adzan, akan mendisplinkan diri terhadap ketepawan waktu, selain itu ibadah shalat lebih khusyuk dan tuma’ninah karena kalau di rumah terdapat banyak gangguan baik anak-anak kecil dan aktivitas rumah tangga lainnya. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Masih Banyak Manusia tidak Bersyukur Al-Quran akan Memberi Syafaat, Jangan Sia-siakan