Suasana menjelang Shalat Subuh di dalam Masjid Nabawi, Makkah. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland) SumatraLink.id (REPUBLIKA NETWORK) — Manusia makhluk sempurna yang diciptakan Allah SWT di muka bumi. Perbedaaan fisik, warna kulit, bahasa, dan budaya seseorang, bukanlah hal prinsip. Bagi orang beriman, yang membedakan dihadapan Allah hanya ketakwaan. Kehidupan manusia berproses, dari tidak tahu menjadi tahu, dari terpuruk menjadi sukses, bahkan dari tidak beriman menjadi beriman. Justru yang tidak diinginkan sebaliknya. Semua yang dilakukan manusia itu terlebih orang beriman tersebut diketahui pada ujungnya saat menjelang ajal. Ujung kehidupan yang husnul khotimah (kematian yang baik) yang dicita-citakan, bukan su’ul khotimah (kematian yang buruk). Banyak kisah akhir kehidupan seseorang tidak disangka-sangka sebelumnya tidak sedang baik-baik saja berujung dengan husnul khotimah. Dalam buku Kisah Karomah Para Wali Allah karya Abu Fida’ Abdurraqib bin Ali bin Hsa Al-Ibi (2006), Imam Ahmad mengatakan, ia mendapatkan riwayat dari Waki', dari Thalhah bin Yahya, dari Ibrahim bin Muhamnad bin Thalhah, dari Abdullah bin Syaddad, ada tiga orang dari Bani Adzrah datang menemui Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam (SAW) untuk menyatakan masuk Islam. Nabi SAW bertanya, "Siapa yang akan menanggung kain kafan mereka?" "Saya," jawab Thalhah singkat. Thalhah mengatakan itu, karena tiga orang lelaki tersebut memang sedang tinggal di rumahnya. Ia yang bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Baca juga: Jadikan Bulan Ramadhan Tahun Ini yang Terakhir Ketika Nabi SAW mengırım satu pasukan untuk berperang, salah seorang dari mereka (tiga lelaki tersebut) ikut berangkat berjihad. Ketika perang, seorang lelaki yang ikut gugur sebagai syahid. Kemudian selang beberapa waktu, Nabi SAW mengirimkan lagi satu pasukan untuk berperang lagi, seorang dari mereka (tinggal dua orang), ikut berangkat berjihad. Tapi, lelaki kedua ini juga meninggal dunia sebagai syahid. Baca juga: Alquran, Manual Book Selama Menuju Kampung Akhirat Beberapa waktu lama dari dua orang yang meninggal dunia tersebut, tidak disebutkan lama waktunya, seorang lagi juga meninggal dunia di atas kasurnya (tidak ikut berperang atau berjihad atau tidak syahid). Selaku orang yang bertanggung jawab atas keselamatan tiga orang lelaki Bani Adzrah tersebut, Thalhah sampai memimpikan ketiga lelaki tersebut dalam tidurnya. "Aku bermimpi melihat ketiga orang yang tinggal di rumahku itu sedang masuk surga. Aku melihat orang yang meninggal dunia di atas tempat tidur berada di barisan terdepan, kemudian disusul oleh orang yang gugur secara syahid yang kedua,” kata Thalhah. Dalam mimpinya, Thalah menuturkan yang masuk surga duluan di depan sekali ternyata lelaki ketiga yang meninggal terakhir di atas tempat tidur, tidak sebagai syahid. Sedangkan di barisan kedua, lelaki kedua yang berjihad dan mati syahid pada pasukan kedua. Kemudian barisan ketiga, lelaki pertama yang syahid pada pasukan pertama. Baca juga: Belajar Berbagi ala Semut yang 'Bertabrakan' Thalhah bingung dan bertanya-tanya dalam hati. Ia heran kenapa lelaki yang meninggal dunia di atas ranjang dan tidak berjihab lebih dulu dan utama masuk surga dibandingkan dua temannya yang mujahid. Lantas, ia menemui Nabi Muhammad SAW. Cerita mimpinya ia sampaikan kepada Rasul SAW, dan sekaligus meminta penjelasan atas kejanggalan kisah tiga lelaki tersebut. "Kenapa kamu menganggap aneh hal itu? Di sisi Allah tidak ada yang lebih utama dari pada seorang mukmin yang diberi usia panjang dalam Islam, lalu ia memanfaatkannya untuk tekun membaca tasbih, takbir, da tahlilnya," sabda Nabi SAW menjelaskan. Dalam versi riwayat lain dari Muhammad bin Bisyru, dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, cerita yang sama disampaikan Imam Ahmad, ada dua orang dari suku Billi (bagian dari suku Qadha’ah) masuk Islam di hadapan Nabi SAW. Satu dari dua orang suku Billi tersebut gugur sebagai syahid, setahun kemudian satu orang lagi meninggal dunia secara biasa atau tidak sebagai syahid. Thalhah bin Ubaidillah mengatakan, ia bermimpi melihat surga dan menyaksikan orang yang meninggal dunia secara biasa itu masuk ke surga sebelum seorang yang gugur secara syahid terlebih dulu. Baca juga: Bulan Ramadhan Sebentar Lagi Tiba, Persiapannya? Besok paginya, Thalhah bergegas menemui Nabi Muhammad SAW dan menceritakan mimpinya tersebut, untuk memintakan maksud mimpinya. Rasul SAW bersabda, "Bukankah sepeninggal temannya yang gugur secara syahid orang tadi telah berpuasa Ramadhan dan shalat sebanyak enam ribu rakaat atau segini atau segitu rakaat shalat sunnat.” Wallahua'lam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Jangan Asal Berpuasa, Apa Hakekat Ramadhan? Berbuka dan Sahur dengan Kurma, Tahukah Keistimewaan Kurma dan Pohonnya?