Sekubal, panganan tradisional Lampung. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland)
Sekubal, panganan tradisional Lampung. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland)

SumatraLink.id — Zaman semakin berubah, jenis makanan pun semakin beragam. Aneka makanan tradisional suatu daerah (sebagian) mulai luput dan langka. Di berbagai lapak-lapak kuliner zaman milenial dan zaman generasi Z sudah jarang ditemukan kuliner tradisional khas suatu daerah tersebut.

Tak jarang para pengunjung atau pelancong dari luar daerah kesulitan mencari panganan atau kuliner yang menyajikan makanan tradisional khas daerah tersebut. Salah satunya makanan khas tradisionnal asal Lampung, Sekubal.

Biasa orang mudah menemukan panganan khas daerah saat musim Ramadhan tiba, khususnya pasar kaget (takjil) menjelang berbuka puasa. Bagi yang ingin suka atau sengaja ingin mencari sekubal di pasar takjil tersebut sudah sulit ditemukan.

Sekubal, salah satu makanan khas Lampung sudah mulai terasing di antara pajangan jajanan takjil selama Ramadhan berlangsung. Kalau bulan puasa saja jarang ada, apalagi pada hari-hari biasa. Hal ini juga disebabkan berkurangnya minat atau belum tahunya orang dengan kuliner tradisional khas daerah tersebut.

Lapak Takjil

Warga lokal saja sulit mendapatkan penjual Sekubal di pasar Kota Bandar Lampung, apalagi pengunjung atau wisatawan. Padahal, makanan berbahan ketan bercampur santan yang berbalut daun pisang tersebut sangat gurih bila disantap pada saat berbuka puasa atau hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Baca juga: Benjak Enjak, Kue Tradisional Lampung yang Mulai Luput

Berdasarkan pengalaman, satu demi satu lapak Pasar Ramadhan di Bandar Lampung ditelusuri, tak terlihat penjual takjil menyajikan Sekubal. Pedagang tak menjual makanan khas karena peminatnya mulai surut, apalagi pada saat Ramadhan.

Ada seorang ibu yang menjual Sekubal di tengah menjamurnya panganan moderen. “Jarang yang cari makanan seperti ini. Sekubal ini titipan orang, dan juga hanya beberapa saja tidak banyak,” kata Weni, penjual Sekubal di Bandar Lampung, beberapa waktu lalu.


Sekubal, makanan khas orang Lampung yang terkenal sejak ratusan tahun lalu. Makanan ini sering disajikan saat bulan Ramadhan terlebih pada hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Cara makannya pun disajikan bisa dengan rendang atau opor dicocol. Atau dimakan secara terpisah juga masih dirasakan enaknya.

Mirip Lepet Jawa

Orang Lampung menyebutnya Sekhubal (baca: Segubal). Panganan ini biasanya dinikmati secara turun temurun saat Lebaran. Makanan terbuat dari ketan dicampur santan kelapa lalu dibungkus daun pisang atau bisa juga daun kelapa, dan direbus dua jam lalu dibakar. Sekubal ini memiliki rasa yang berbeda gurihnya saat dicocol dengan sambal, bumbu rendang, serundeng, dan sayur pedos.

Sekubal mirip dengan lepet di Jawa, tapi berbeda bahan dan cara pembuatannya. Memasak Sekubal bisa memakan waktu empat jam agar rasanya legit dan gurih. Selain harus memiliki keahlian khusus merendam ketan, menanaknya, dan mencetak dalam daun pisang serta memasaknya.

Ida, ibu rumah tangga asal Padang Cermin mengatakan, makanan Sekubal saat ini hanya diketahui oleh para orangtua, sedangkan anak muda sudah tidak mengenal lagi apalagi hobi. Pasalnya, sudah tidak ada lagi yang mau membuat Sekubal di rumah-rumah. “Hanya orang tua jaman dulu yang masih mau buat Sekubal,” katanya.

Baca juga: Mi Khodon, Kuliner Legendaris di Telukbetung Sejak 1960

Menurut dia, biasanya masih ada yang jual Sekubal secara berkeliling di komplek perumahannya, namun jarang sekali. Bila ada yang mengidam atau yang ingin makan Sekubal, maka sulit untuk mencarinya baik di mal, toko makanan, atau di jajajan pasar. Terpaksa, menyuruh orang tua membuatnya, walaupun rumit dan membutuhkan waktu yang lama.

Harga jual Sekubal berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu per satuan (bisa dipotog 10 biji). Terkadang Sekubal yang dijajakan tidak juga laku, karena peminatnya tidak ada. Masyarakat yang datang rata-rata membeli panganan untuk berbuka sehari-hari, bukan makanan khas Lampung.


Andil Dekranasda

Penganan khas Lampung ini sudah banyak ditinggalkan generasi muda terutama para milenial apalagi generasi Z. Untuk membangkitkan lagi kuliner tradisional daerah, Dekranasda Bandar Lampung menggelar makan Sekubal terbanyak di Lapangan Merah, Enggal, beberapa tahun lalu.

Saat itu, Ketua Dekranasda Bandar Lampung Eva Dwiana menyiapkan 15 ton ketan. Gelaran ini yang dimotori Dekranasda Bandar Lampung ingin melestarikan makanan khas dan kue tradisional di Lampung, seperti Kue Legit, Seruit dan Sekubal.

Baca juga: Tekwan Palembang, Bukan Makanan Raja

Selain disajikan pada menu untuk berbuka dan sajian Lebaran, panganan Sekubal juga baru keluar dan dapat dinikmati warga pada acara pernikahan atau acara adat dan budaya lainnya, termasuk acara-acara pada pemerintah daerah dalam memperingati hari-hari besar dan hari jadi daerah di Lampung. (Mursalin Yasland)