Keluarga harmonis. (Foto Ilustrasi: Republika.co.id/Yogi Ardhi) SumatraLink.id – Tidak berarti hal yang menyenangkan dan menyayangkan akan selalu bersama menuju keselamatan dunia dan akhirat. Justru, boleh jadi kedua hal tersebut dapat menjerusmuskan kita dalam kesengsaraan tidak saja di dunia juga akhirat. Salah satu hal yang menyenangkan dan menyayangkan tersebut bagi sebuah keluarga yakni memiliki istri (-istri) dan anak-anak. Bagi suami, tentu istri yang baik sholehah dan anak-anak yang taat kepada agama dan orangtua menjadi idaman baginya. Sebaliknya, memiliki istri dan anak-anak yang tidak sejalan dengan agama dan kehendak suami dan orangtua, maka seorang istri dan anak-anak akan menjadi musuh bagi suami atau bapak dalam menjalani kehidupan di dunia ini dan berakibat tidak selamat di akhirat. Allah Subhanahuwata’ala (SWT) berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka …,” (QS. At-Taghaabun: 14). Menurut tafsir Ibnu Katsir, ayat ini mengabarkan bahwa istri-istri dan anak-anak ada yang menjadi musuh bagi suami atau seorang ayah. Maksudnya, istri dan anak-anak akan dapat menjadikan seseorang suami lalai dari berbuat amal shalih. Baca juga: Puasa Syawal ‘Lebih Berat’ dari Ramadhan, tapi Pahalanya Luar Biasa Lalai dari berbuat amal shalih ini, karena perlakuan dan tindakan istri atau anak-anaknya membuat suami cenderung mengikuti kehendak istri dan anak-anak yang menjauhkan dari ketaatan kepada Allah SWT dan Rasulullah Sholallahu’alaihi wassalam (SAW). Artinya, seorang suami atau seorang ayah yang saking sayangnya kepada istri atau saking senangnya kepada anak-anaknya, rela meninggalkan perintah agama dan menjauhi larangannya demi menjaga ‘keharmonisan’ dalam rumah tangganya secara absurd. Baca juga: Mengharap Hidayah Bukan Menunggu Hidayah Sering terjadi, sebagian istri mendesak suaminya untuk berbuat diluar ketentuan Allah dan Rasul-Nya demi mencapai keinginan dan kepuasannya dalam hidup berumah tangga. Banyak sang suami yang tegelincir dalam menjalani pekerjaan dan usahanya demi ‘membahagiakan’ istri dan anak-anaknya berbuat curang atau korupsi. Begitu juga dengan anak-anaknya yang dapat menjadi musuh bagi bapaknya (ayahnya). Banyak berita di media massa dan media sosial saat ini, seorang atau beberapa anak dalam sebuah keluarga berharap lebih kepada orangtuanya untuk memenuhi hasrat nafsu belaka, yang pada akhirnya menjerumuskan ayahnya berbuat dosa. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah. Dan barang siapa yang melakukan hal tersebut, maka itulah orang-orang yang merugi,” (QS. Al-Munaafiquun: 9). Menurut tafsir Ibnu Katsir, barang siapa yang teperdaya dengan kenikmatan dunia dan perhiasannya dengan melupakan diri untuk berbuat taat dan berdzikir (mengingat) Allah SWT, maka dia termasuk orang-orang yang benar-benar merugi. Rugi disini rugi dalam keluarga dan pada hari kiamat kelak. Baca juga: Segenggam Garam Lebih Baik dari Peminta-minta Banyak para orang tua terutama seorang ayah yang tergelincir dari berbuat yang dilarang agama dikarenakan berhasrat penuh mengejar harta kekayaan dan keinginan anak-anaknya. Allah SWT memerintahkan dalam Al-Quran Surah At-Taghaabuun ayat 14 kelanjutnya, “… Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka (istri dan anak-anakmu).” Berhati-hati disini dimaksudkan tetap terus waspada dengan istri dan anak-anaknya, karena jelas dalam Al-Quran keduanya boleh jadi musuh baginya dalam sebuah keluarga. Ibnu Zaid mengatakan, maksud berhati-hati disini terhadap agama kalian (agar tidak melalaikan perintah dan larangan dalam agama). Mujahid, seorang ulama tafsir dari kalangan tabi’in mengatakan, seorang lelaki (suami) dapat terseret dari pemutusan tali silaturrahmi dalam keluaganya dan dapat durhaka kepada Allah SWT. Hal tersebut terjadi, terkadang karena seorang lelaki (suami) tidak dapat atau tidak sanggup berbuat apa-apa karena telah dirasuki kecintaan dan rasa kasih sayang kepada istri dan anak-anaknya, padahal jauh dari perintah agama. Baca juga: Andai Engkau Tahu, Niscaya Sedikit Tertawa Banyak Menangis Ibnu Abi Hatim, ahli hadist merawi 18.040 hadist wafat tahun 327 H meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengatakan, ada para suami yang telah masuk Islam di Kota Makkah, mereka ingin bertemu Rasulullah SAW, karena banyak orang yang mendalami ilmu agama, namun istri-istri dan anak-anaknya melarang dan menolaknya. Lantas, para suami tersebut bermaksud ingin menghukum istri dan anak-anak mereka karena melarang dan menolak untuk belajar ilmu agama. Maka, turun QS. At-Taghaabuuun ayat 14 kelanjutannya, “Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dalam sebuah keluarga, tidak saja istri-istri dan anak-anak menjadi musuh atau fitnah bagi kepala keluarga, tetapi juga harta. Allah SWT berfirman, harta benda dan anak itu adalah fitnah (QS. At-Taghaabuun: 15). Semoga kita semua kepala keluarga dijauhkan dari musuh dalam keluarga yang dapat melalaikan kita mengingat Allah SWT. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Mengharap Hidayah Bukan Menunggu Hidayah Alam Ini Rusak karena Ulah Tangan Manusia