SUMATRALINK.ID – Ramadhan bulan istimewa yang didalamnya diturunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW) melalui malaikat Jibril. Pantaslah bagi yang bersahabat dengan Al-Quran, akan mendapat syafaatnya di hari kiamat. Allah Subhanahuwata’ala (SWT) berfirman, “Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al-Quran,” (QS. Al-Baqarah: 185). Teristimewanya, Al-Quran diturunkan dalam Bulan Ramadhan pada saat lailatul qodar (malam penentuan Allah SWT). Dari Ibnu Abbas Rodhiyallahuanhu (ra), Nabi SAW bersabda, “Al-Quran itu diturunkan sekaligus ke langit dunia pada lailatul qodar. Kemudian setelah itu diturunkan selama 20 tahun…,” (HR. Hakim, Baihaqi, Nasa’i). Allah SWT berfirman, “Dan Al-Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacanya secara perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian,” (QS. Al-Isra’: 106). Jadi, Al-Quran yang berada di Lauhul Mahfuz itu diturunkan Allah SWT ke langit dunia yakni di Baitul Izzah. Kemudian, malaikat Jibril menurunkannya kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur. Al-Quran adalah kalam/firman Allah SWT. Al-Quran bukan kalam malaikat Jibril apalagi kalam Nabi Muhammad SAW. Nabi SAW hanya penerima wahyu dari Allah SWT yang terjadi secara maknawi dari malaikat Jibril. “Dia (Muhammad) tidaklah berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Apa yang diucapkannya itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya,” (QS. Najm: 3-4). Artinya, menurut Mannad Khalil A-Qattan dalam bukunya Studi Ilmu-ilmu Quran (1994), diperbolehkan meriwayatkan hadist menurut maknanya, sedangkan Al-Quran tidak boleh. Hal inilah yang menjadi istimewanya Al-Quran. Al-Quran itu mukjizat Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Quran berisikan ayat-ayat Allah SWT yang kepastiannya mutlak. Bagi yang membaca Al-Quran dinilai ibadah, apalagi memelajari dan mengamalkannya. Tak hanya itu, Al-Quran juga dapat memberi syafaat kepada pembacanya di hari kiamat. Dari Abu Umamah ra, Rasul SAW bersabda, “Bacalah Al-Quran karena pada hari kiamat, ia akan datang sebagai syafaat untuk para pembacanya,” (HR. Muslim). Pada hari-hari Ramadhan ini, selain berpuasa di siang hari, ibadah yang rutin dilakukan para sahabat dan para salafus sholih yakni tilawah Al-Quran. Imam Syafi’i saja mengkhatamkan Al-Quran sekali di luar shalat, sedangkan di dalam shalat juga sekali. Sehingga sebulan Ramadhan ia dapat mengkhatamkan Al-Quran sampai 60 kali. Bagi kita yang belum lancar membaca Al-Quran atau belum hafal seperti para ulama salaf, setidaknya dapat mengkhatamkan minimal sekali dalam sebulan pada Ramadhan. Lebih dari sekali itu lebih baik. Keutamaan membaca Al-Quran di sela-sela Bulan Ramadhan, baik sebelum atau setelah shalat fardhu, atau di waktu-waktu tertentu, akan menambah nikmat beribadah dalam Ramadhan, yang datangnya hanya setahun sekali. Seperti diketahui, satu huruf (bukan satu kata atau satu kalimat) dalam Al-Quran dihitung 1 kebaikan, tetapi dibalas Allah SWT 10 kebaikan. Bagaimana dengan satu surah, atau satu juz, atau sekali khatam. Ibnu Mas’ud ra meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan itu dibalas dengan 10 kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tetapi aliif itu satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim itu satu huruf,” (HR. Tirmidzi). Tidak terbayangkan betapa mulianya Allah SWT dengan kasih sayangnya kepada hamba-Nya yang beriman, ketika membaca Al-Quran mulai dari awal hingga akhir Ramadhan dan dapat mengkhatamkan Al-Quran dilipatgandakan 700 kali lipat pahalanya. Untuk itu, mari kita memulai tilawah Al-Quran dari Ramadhan hingga bulan-bulan selanjutnya secara rutin. Bagi yang belum punya Al-Quran segera membelinya. Bagi yang belum bisa atau belum lancar membaca Al-Quran segera belajar kepada guru ahlinya. Sedangkan bagi yang sudah lancar membaca Al-Quran sesuai dengan tajwidnya, ditingkatkan lagi berusaha mengerti terjemahannya, lalu membaca asbabun nuzul (sebab turun ayat Al-Quran) dan tafsirnya, kemudian yang terpenting juga mengamalkannya untuk dirinya, keluarga, dan umat lainnya. Semoga kita semua dimudahkan untuk tetap terus rutin tilawah Al-Quran dalam setiap kesempatan, dan berharap akan mendapatkan syafaatnya kepada kita di akhirat yang tiada perlindungan. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Meraih 27 Derajat Lewat Shalat Berjamaah Meneladani Abdurrahman bin Auf, Orang Terkaya di Madinah