TIGA kali musim haji, Amirul Mukminin Umar bin Khotob Rodhiallohu anhu mencari Uwais Al Qorni. Rombongan calon haji dari negeri Qorn ditanyain satu per satu. Tak ada yang kenal, tak ada yang tahu sosok Uwais Al Qorni. Tiba saatnya musim haji berikutnya, Umar kembali menunggu kedatangan Uwais di depan Kakbah. Salah seorang jamaah calon haji, mengetahui sosok Uwais. Hamba sahaya yang sehari-hari suka membantu warga dalam hal apa pun, namun tetap menjadi orang tak dikenal. Uwais meninggalkan tanda selingkaran uang logam di punggungnya, bekas penyakit kulit yang dialaminya bertahun-tahun. Dalam kondisi berpenyakitan, Uwais yang hanya memiliki seorang ibu kandung, tetap berbakti kepada orang tuanya. Ekonomi yang tidak berkecukupan, Uwais meniatkan ingin ingin berangkat haji ke Tanah Suci bersama ibunya, meski kondisi ibunya yang kala itu lumpuh. Niat yang kuat, tidak ada yang tidak mungkin. Bila Allah Subhanahu wata’ala sudah berkehendak tak ada manusia atau makhluk apapun yang dapat merintangi. Uwais berangkat haji, dengan menempuh perjalanan kaki menapak gurun pasir menuju Makkah Al Mukaromah beratus kilometer dari tanah kelahirannya. Tak terlintas sedikitpun, kalau setibanya di Tanah Suci, ia – yang seorang terabaikan di dunia – ternyata ditunggu-tunggu dan disambut istimewa oleh Khalifah Umar bin Khotob. Meski ditolak halus, Umar meminta Uwais mendoakannya berkali-kali agar diampuni Allah. Doa yang dipanjatkan Uwais tujuh pintu langit terbuka lebar, dan Arsy Allah bergetar. Nabi Muhammad Shollahu’alaihi wassalam bersabda, “Akan datang kepada kalian seorang yang bernama Uwais ibn Amir bersama sekelompok pasukan perang dari penduduk Yaman, wilayah Murad dari perkampungan Qarn.” “Dahulu ia pernah menderita penyakit kusta, namun kini telah sembuh, kecuali tersisa seukuran uang satu dirham. Ia memiliki seorang ibu, dan ia sangat berbakti kepadanya. Kalau ia bersumpah atas nama Allah, pasti terkabul. Jika engkau bisa memohon kepadanya agar Allah mengampunimu, maka lakukanlah.” Uwais bukanlah seorang raja Persia apalagi raja Romawi yang menguasai barat dan timur. Ia makhluk Allah yang sangat ‘lemah’ dan ‘terpinggirkan’ di lingkungan pemukiman rumahnya. Tapi kekuatan ‘langit’ telah mengantarkannya menjadi tamu Allah Subhanahuwata’ala, dan sekaligus tamu Khalifah kedua Amirul Mukminin Umar bin Khottob. Labbaik Allahumma Labbaik. Labaika Laa Syarika Laka Labbaik. Innal Hamda Wan Ni’mata Laka Wal Mulk. Laa Syarika Lak. (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya pujian dan nikmat adalah milik-Mu, begitu juga kerajaan adalah Milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu). Semoga kita semua dipanggil Allah Subhanahuwata’ala untuk menyempurnakan rukun Islam kelima. Aamiiin. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Tak Jelas Masalah, Dikurung ‘Kapten’ dan Diancam Pistol Rumahku Bukan Rumahmu