SUMATRALINK.ID — Dwitunggal Sukarno – Hatta menjadi tokoh sentral terjadinya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta, pada 17 Agustus 1945. Jasa beliau berdua sangat berarti bagi bangsa dan negara ini. Indonesia sudah merdeka, tapi ada hal ganjil ketika peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) setelah pergantian dari Orde Lama ke Orde Baru. Kedua proklamator ini; Bung Karno menjadi presiden dan Bung Hatta menjadi wakil presiden (wapres). Seiring waktu kedua tokoh ini memimpin bangsa dan negara ini berujung pecah. Bung Hatta mengundurkan diri sebagai wapres. Bung Karno menjalani tugas penting negara secara tunggal tanpa wapres hingga berganti pemerintahan baru dan wafat. Baca juga: Secuil Cerita Bung Hatta Ingin Hadiri HUT ABRI 5 Oktober 1974 Hanya tersisa seorang proklamator yakni Bung Hatta, yang harus menikmati hidup bersama keluarga seadanya dengan tunjangan pensiun sebagai wapres yang dirasakannya jauh dari cukup. Dalam tahun-tahun pertama pemerintahan Orde Baru, seperti ditulis dalam Buku Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan (penyunting Meutia Farida/1980), Bung Hatta tidak pernah diundang ke istana presiden untuk menghadiri upacara peringatan HUR RI pada 17 Agustus. Tak dilibatkannya Bung Hatta mantan wapres tersebut, membuat banyak orang bertanya-tanya. Tak sedikit, orang sedih dan menyesalkan tindakan pemerintah baru tersebut. Tapi, seorang tokoh bangsa tetaplah panutan bangsa. Meski tak diundang di istana, tapi rakyat terus berdatangan ke rumah Bung Hatta hanya sekedar mengucapkan selamat kepada Proklamator Indonesia tersebut. Apakah Bung Hatta sedih dan kesal? Tidak. Bung Hatta tidak kecewa bila tidak diundang ke istana hanya sekedar menghadiri peringatan HUT RI pada awal-awal pemerintah Orde Baru. Baca juga: Menolak Komunis Masuk Kabinet, Hatta Mundur dari Wapres Bagi Bung Hatta peringatan HUT RI sebagai bagian dari sejarah penting buat bangsa dan negara ini. Meskipun ia satu-satunya proklamator yang masih hidup sekaligus pelaku saksi proklamasi, jiwa dan korsanya tetap untuk kepentingan rakyat. Bung Hatta tak berkecil hati apalagi menyesalkan ketiadaan undangan peringatan HUT RI tersebut di istana. Kepada banyak orang, ia tetap berupaya menjaga keutuhan bangsa dengan bermusyawarah untuk menghindari pemberontakan. Sejalan berganti tahun, Pemerintahan Orde Baru merespon kejadian ganjil tersebut. Pihak istana memperbaiki kesalahan teknis administrasi dalam peringatah HUT RI. Baca juga: Sukarno-Hatta, Dwitunggal yang Bercerai Saling Merindu Undangan pun datang. Bila kesehatan Bung Hatta memungkinkan ia akan datang menghadiri peringatan bersejarah tersebut. “Namun, tahun itu kondisi kesehatannya menurun dan tubuhnya lemah, sehingga ia mengirim utusan istrinya Rahmi dan Halida, putri bungsunya,” tulis Rharty Subijakto, adik ipar Bung Hatta (adik istrinya Rachmi Rachim) dalam tulisan berjudul Sebuah Kenangan. Menurut Rharty, dari sikap Bung Hatta atas segala kejadian yang tidak mengenakkan dirinya dan dihadapi dengan lapang dada dan tidak dendam, ternyata rakyat tetap tidak melupakannya dengan cara mereka ketika melepas jenazahnya dan setelah itu dalam perjalanan ke pemakaman umum Tanah Kusir. Salah satu hal teristimewa sebelum Bung Hatta wafat, seperti dituturkannya, Fatmawati, istri Presiden Sukarno membezuk proklamator tersebut di rumah sakit. Kunjungan ibu negara yang dikenal penjahit Bendera Merah Putih ini, ternyata untuk yang terakhir kali. Baca juga: Secarik Kertas, Sukarno Menulis Kata-kata Proklamasi Fatmawati sempat memberikan doa terbaik kepada Bung Hatta yang saat itu sedang kritis. Fatmawati juga membimbing lisan Bung Hatta untuk mengucapkan; “Sebutlah nama Allah, Bung! Allah…. Allah…., Allahu Akbar….” kata Fatmawati di depan Bung Hatta yang sedang kritis. Bung Hatta secara pelan dan terbata-bata karena lisannya sudah sulit untuk berbicara, akhirnya dapat mengikuti ucapan Fatmawati, istri sahabatnya Sukarno, meskipun sempat berpisah di ujung jabatannya. Beberapa jam setelah itu, Bung Hatta menghembuskan nafas terakhirnya. Sekira dua bulan kemudian, Ibu Fatmawati menyusul ke Rahmatullah. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter/X Threads Navigasi pos Selepas Lengser, Apa Pesan Pak Harto kepada Anak-anaknya?