Rumah Susun PalembangRumah Susun Palembang. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

SUMATRALINK.ID — Menjelang siang, asap hitam mengepul di langit. Warga Lorong Kapten belakang Pasar Cinde Palembang, persisnya seputaran SMEA Negeri 1 masih tampak biasa-biasa saja.

Lama kelamaan kobaran asap pekat makin meluas di kawasan 24 Ilir. Warga mulai panik. Beberapa warga terdampak kebakaran mulai tampak berseliweran di lorong itu membawa perabotan rumah.

Api terus menjalar menyantap satu demi satu rumah kayu warga yang padat penduduk. Jalur evakuasi di lokasi kebakaran waktu itu memang terbatas hanya lorong yang hanya bisa dilalui sepeda, motor, atau becak.

Salah satu Blok Rumah Susun Palembang. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

Waktu kejadian, 18 Agustus 1981 (18-8-81), masih duduk di kelas 4 SD. Rumah kami berada di samping SMEAN 1, tak berapa jauh dari lokasi kebakaran di kelurahan 24 Ilir dan sekitarnya. Kami sempat juga mengungsi ke Kantor Gubernur Sumatra Selatan membawa sedikit barang penting.

Lorong Kapten (sekarang Jl Letnan Jaimas) tempat kami tinggal sangat strategis. Lorong ini dapat menembus semua lorong di lokasi kejadian kebakaran. Ada Lorong Kebon dan Lorong Budi yang menuju lokasi musibah.

Biasanya, selepas peringatan 17 Agustus zaman Presiden Soeharto, besoknya 18 Agustus ada pawai pembangunan siang harinya dan dilanjutkan dengan lomba bidar di Sungai Musi petang harinya.

Lorong Blok Rumah Susun. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

Hari libur atau tanggal merah hanya 17 Agustus, sedangkan besoknya 18 Agustus sudah sekolah dan kerja lagi. Tapi, biasanya, ketika pawai pembangunan di jalan raya, murid sekolah dan pegawai pulang cepat.

Saat kejadian, seingat dulu, tidak ada gelaran pawai pembangunan dan juga lomba bidar. Mungkin batal otomatis. Semua terkonsentrasi pada musibah kebakaran yang melanda beberapa kelurahan dalam Kota Palembang.

Kebakaran terbesar di Palembang ini memakan sejumlah rumah yang dikenal padat penduduk. Api menyebar dengan sangat cepat dan melahap rumah-rumah warga rata-rata berbahan kayu. Belum diketahui persis asal api dan penyebabnya.

Kawasan Rumah Susun membelah Sungai Sekanak. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

Kala itu terdapat Sungai Limbungan, tempat hilir mudik kayu gelondongan dari Sungai Musi. Di tepian sungai itu, terdapat beberapa panglong kayu. Serbuk bekas gergajian panglong berserakan, menjadi sarana bermain kami ketika masih anak-anak.

Bulan Agustus dikenal warga dengan musim panas dan angin kencang. Tepatlah kiranya, pada peristiwa kebakaran itu, jilatan api sempat menyeberang sungai dan jalan raya, sehingga dampak kebakaran meluas.

Kebakaran itu sudah berlalu 45 tahun. Musibah 18-8-81 tersebut meninggalkan bekas dengan tumbuh berjajar Rumah Susun atau Rusun di tengah Kota Palembang. Rusun berdiri di kanan-kiri, (jalan baru) Jalan Radial dan membelah anak Sungai Sekanak, dulu Sungai Limbungan.

Rusun ini berlantai empat dengan berbagai tipe dan blok, diprioritaskan untuk warga korban kebakaran. Seingat kami, Rusun ini mulai dibangun setahun setelah kebakaran dan selesai tahun 1985.

Keberadaan Rusun ini juga sudah memasuki usia 41 tahun. Tentu kondisi fisik bangunan Rusun ini sudah kedaluarsa. Sudah banyak atap dan plafon bahkan dindingnya yang rusak parah.

Aktivitas warga terpadat di blok Rumah Susun. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

Tidak ada perbaikan besar-besaran dari pemerintah dengan kondisi fisik yang tidak representatif lagi. Bahkan, sebagian blok sudah banyak ditinggalkan penghuninya (rata-rata penyewa) dengan alasan keselamatan jiwa.

Rusun dengan berbagai entitas penghuninya kian membeludak. Selain sebagai tempat tinggal, juga tempat berusaha. Dampaknya, hunian di tengah kota Palembang menjadi masalah dalam penataan kota. Selain tampak bangunan sudah tidak layak, juga hunian tersebut dinilai tidak estetik lagi di pusat kota.

Beberapa tahun lalu, menurut seorang pemilik Rusun yang ditemui, para pemilik Rusun sempat mendapat panggilan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang. Pemkot berencana membangun kawasan Rusun menjadi apartemen berlantai lebih dari lima tingkat.

Rencana tersebut disambut positif pemilik Rusun dengan berbagai kompensasi yang telah disepakati. Namun, kata seorang pemilik Rusun, setelah ditunggu-tunggu tidak ada lagi kelanjutannya.

“Mungkin, belum ada dananya,” kata seorang pemilik Rusun, belum lama ini. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *