Makam Nabi Muhammad SAW berada di bawah Kubah Hijau di Masjid Nabawi, Madinah, Saudi Arabia. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland) SumatraLink.id (REPUBLIKA NETWORK) – Sampah masih berserakan, pagi itu. Belum hilang keringat yang mengucur, sepeda motor berbonceng tiga orang; ibu, bapak, dan anak kecilnya, mendekati lelaki tua itu. Sejenak menghentikan motornya, istrinya pun turun menghampiri lelaki tersebut yang tampak kelelahan. Sebungkus nasi dikeluarkan dari kantong kresek yang di dalamnya berisi sejumlah nasi bungkus. Tanpa banyak bicara, seusai memberikan sebungkus nasi, lalu ibu berhijab tadi naik motor suaminya kembali, pergi ke arah kota. Sekuel mengharukan di Jalan Sudirman, Ganjar Sari, Kota Metro, Lampung, beberapa waktu lalu tersebut, seakan “menegur” pengguna jalan lainnya. Banyak yang melintas, tapi tidak terpikirkan untuk berbagi sesama manusia. Mungkin tidak seberapa nilainya. Barangkali itu nasi uduk, yang biasa dikenal di Lampung. Harganya tak mahal, paling tinggi di warung pinggir jalan cuma Rp 6.000 per bungkus. Sejumlah nasi bungkus di kantong kresek tersebut, boleh jadi mau dibagikan kembali kepada yang membutuhkan. Penyapu jalan yang keluar bakda Subuh tersebut, harus rela meninggalkan rumah dan keluarganya. Boleh jadi pula rumahnya belum selesai disapu, tapi ia harus menyapu jalan yang panjang. Mungkin juga bekal bekerjanya hanya sebotol minuman tanpa makanan. Berbagi seperti keluarga tadi tak banyak dilakukan orang. Berbagi memang menjadi barang langka. Padahal, teringat kisah Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW), yang memberi makan dan menyuapi seorang lelaki tua kafir yang buta di perempatan jalan, setiap pagi. Baca juga: Kerak Neraka Sedalam Batu yang Jatuh Selama 70 Tahun Tatkala Rasul SAW, memberikan makan dengan cara menyuapinya, lelaki tua tersebut menceritakan kejelekan dan sekaligus mengejek Nabi SAW yang berkuasa saat itu. Beliau tidak marah, ia tetap mendengar ucapan kasar dari lisan lelaki tua tadi dengan sabar, dan terus dilakukan setiap hari. Setelah Nabi SAW wafat, Abubakar Rodhiallohuanhu (RA) bertanya pada anaknya Aisyah Rodhiallohuanha (RH), yang juga istri Nabi SAW soal kebiasaan suaminya. Aisyah RH memberi tahu bahwa Nabi SAW selalu memberi makan lelaki tua buta di pinggir jalan. Abubakar, sahabat Rasul SAW terdekat ini bergegas ingin menghampiri orang tua tersebut dan berusaha ingin memberi makan juga. Tapi, apa kata lelaki tua buta tersebut. "Ini tidak seperti orang yang memberi makan kepadaku sebelumnya dengan lembut. Tapi, dia tidak pernah lagi kesini," kata lelaki tadi kira-kira begitu kisahnya. Abubakar RA tercengang dan kagum. Sahabat pertama yang masuk Islam tersebut menyatakan kepada orang tua tersebut bahwa yang memberi makan setiap pagi itulah Nabi Muhammad SAW yang selalu engkau jelek-jelekkan. "Beliau sudah meninggal," kata Abubakar, sahabat terdekat Rasul SAW yang juga khalifah pertama yang telah dijamin masuk surga. Baca juga: Puasa Dapat Mengikis Sifat Kikir Manusia Mendengar kabar itu, lelaki tua buta dan kafir Yahudi tersebut, tertegun-tegun menangis dan menyesali dengan kelakuannya yang jahat kepada Nabi Muhammad SAW. Dari kisah "sebungkus nasi" dan berbagi setiap hari kepada orang lain tersebut, setidaknya kebaikan seseorang membuat lelaki tua yang buta dan menghina Nabi SAW tersebut mendapat hidayah dan langsung bersyahadat masuk Islam. Banyak hal yang dipetik dari kisah kebaikan yang berbuah kebaikan, meskipun proses awalnya pahit. Dengan berbagi ternyata dapat meluluhkan hati yang keras seperti baja. Wallahua'lam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Penjaga Hutan Sebangau Bertarung dengan Senjata Api Preman Tangisan Harun Al-Rasyid Saat Mengemban Jabatan Khalifah