Presiden PrabowoPresiden Prabowo berkunjung ke Lampung, Rabu (10/6/2026). (Foto: Dok. Bunda Eva)

SETAHUN lebih delapan bulan menjabat presiden, sependek pengamatan saya, pertama kalinya Prabowo Subianto berkunjung ke Lampung.

Kalau presiden sebelumnya Joko Widodo sudah tak terhitung lagi kunjungan ke Lampung, bahkan masa purnatugasnya, Jokowi masih berencana akan berkunjung lagi ke Lampung.

Agenda presiden ke-8 ini meresmikan RSUD Muhammad Thohir di Krui, Pesisir Barat, dan juga membuka Munas Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Bandar Lampung, Rabu (10/6/2026).

Kunjungan kerja presiden ke Lampung ini wajar mendapat prioritas, selain Lampung unggul pada pilpres, juga tak terlepas dari sosok peran Gubernur Lampung Rahmad Mirzani Djausal, yang juga ketua DPD Partai Gerindra Lampung dan mantan ketua DPD Hipmi Lampung.

Selebihnya, dari dua agenda tersebut, saya cek berita online dan medsos tidak ada lagi kegiatan lain selama di Lampung.

Pada kali ini, tidak membahas Presiden Prabowo didampingi Seskab Teddy Indra Wijaya berkunjung di Lampung. Tapi, ketika Prabowo ke Lampung, justru saya ke pasar tradisional.

Apa hubungannya dengan presiden? Apa pentingnya ke pasar? Dan, apa-apa lagi korelasinya?

Memang tidak ada hubungan, memang tidak penting, dan memang tidak berkorelasi secara resmi. Tapi, menurut saya, kunjungan saya ke pasar tradisional justru membuka mata dan telinga bahwa kenyataan di pasar sangat berbeda dengan pernyataan presiden di mimbar.

Kebetulan jam tangan saya mati, baterainya habis. Kunjungan awal di Pasar Tengah, Tanjungkarang (Bandar Lampung) mencari baterai jam di pasar grosir tersebut. Lumayan, kalau dipikir harganya kalau beli baterai di toko jam.

Tapi, terkejut, ternyata harga baterai jam premium Rp65 ribu, naik dua kali lipat lebih (biasanya Rp30.000). Penjual mengatakan, sekarang sudah harga baru, semua naik tak tanggung-tanggung dua kali lipat dari harga sebelumnya.

Tak hanya harga-harga naik, tapi di Pasar Tengah tersebut terlihat banyak toko-toko tutup dan memasang merek “Dijual” atau “Disewakan”. Banyak yang mengatakan, ini karena dampak marak dan masifnya jualan online. Ekonomi pasar tradisional akhirnya meredup, tak seperti dulu. Bahkan, biasa mau Lebaran omset pedagang melimpah, sekarang melemah.

Selepas Pasar Tengah, saya berkunjung dab berbelanja ke Pasar Induk Tamin, tempat grosir aneka sayur mayur kebutuhan dapur rumah tangga langsung dari petani. Ternyata, harga-harga pangan seperti kentang, kol, bawang, cabai dan lain-lain, bukan naik lagi, tapi sudah berubah harga. Kalau naik biasanya tipis-tipis, tapi kalau berubah harga itu tandanya harga baru.

Dari Pasar Tamin, saya singgah ke Pasar Tani, Kemiling sebelum pulang ke rumah. Kali ini, saya ke toko beras dan sembako grosir terkenal. Ternyata, harga beras dari petani di sentra beras Lampung juga sudah lama naik.

Biasanya, harga beras medium kemasan 10 kg Rp125.000- Rp130.000 sekarang sudah Rp 150.000- Rp 160.000. Sedangkan harga beras premium kemasan 10 kg kisaran Rp165.000 – Rp170.000. Kalau beli eceran – bagi yang tidak mampu – per kilogramnya lebih mahal lagi.

Belum lagi harga sembako seperti terigu, sagu, gula, minyak goreng, telur ayam, dan semacamnya, termasuk kemasan plastik juga sudah naik dari sebelumnya.

Selepas dari Pasar Tani Kemiling, beranjak pulang ke rumah. Namun, di perjalanan, melihat antrean truk, bus penumpang, dan kendaraan pribadi berbahan bakar solar subsidi mengantre panjang di pinggir jalan di setiap SPBU. Bahkan, ada SPBU sudah memasang tanda Solar Habis, tapi antrean kendaraan tidak berkurang.

Saat kondisi sedang sempit dan harga-harga naik dan mahal, saya melihat banyak orang tua mendampingi anaknya lagi sibuk mengurus untuk masuk atau daftar sekolah menjelang tahun ajaran baru. Orang-orang sibuk memfotokopi dan mengurus administrasi sekolah untuk murid baru. Semua itu, jelas uang semua urusannya.

Dari kunjungan ke pasar ini, banyak hal fakta dan data yang diperoleh langsung dari pelaku ekonomi mikro. Intinya, ternyata kondisi ekonomi penduduk kelas marjinal Indonesia ini sedang tidak baik-baik saja. Pelaku ekonomi marjinal sudah masuk fase “hidup segan mati tak mau”. Artinya, bisa bertahan (terus merugi) saja sudah bagus, asalkan jangan bangkrut.

Saya tidak tahu, dari kunjungan saya ke pasar ini, apakah Presiden Prabowo tahu dengan kondisi ekonomi level rakyat jelata ini? Seringkali kita dengar di mimbar, presiden bilang rakyat Indonesia biar susah tapi tetap bahagia, atau juga bilang negeri kita sudah swasembada beras atau pangan.

Jadi, ingat sebelum ia jadi presiden, janji-janji muluk terlepas dari mulutnya di atas mimbar; harga-harga murah (terjangkau), angkutan publik bebas (subsidi), biaya sekolah gratis (nol), dan segepok impian yang menghayutkan alam sadar rakyat, kala itu. Ah, sudahlah, nasi sudah (bukan lagi bubur) tapi sudah basi. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *