Bung Karno murid HBS Surabaya, Tahun 1916. (Foto: Dok. Cindy Adams)

SUMATRALINK.ID – Banyak hikmah pasca-Indonesia merdeka dari penjajah, selain Wapres Bung Hatta melangsungkan pernikahan, juga Presiden Bung Karno berniat ingin mengubah ejaan namanya.

Dalam kisahnya, seorang bayi lelaki lahir dari rahim Ida Nyoman Rai di Surabaya pada 6 Juni 1901. Menurut Soebagijo IN dalam bukunya Bung Karno Anakku (1981), Raden Soekemi Sosrodihardjo (1873-1945), bapak Bung Karno yang seorang guru langsung menamakannya Kusno.

Kelahiran anak kedua Kusno ini, menurut Ida Nyoman Rai, sewaktu Kusno lahir, telah ada beberapa alamat alam yang menggambarkan keistimewaan anak kecil itu.

Di langit biru, apabila telah larut malam, nampaklah di sebelah timur Bintang Kemukus, menurut kepercayaan orang Jawa kuno akan membawa perubahan pada hidup dan kehidupan manusia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya.

Baca juga: Bicara Perempuan dan Islam, Apa Pandangan Bung Karno?

Tak lama Kusno lahir, Gunung Kelut meletus mengeluarkan lahar yang panasnya tinggi dan menelan korban jiwa dan harta benda.

Lalu, bagaimana ceritanya nama Kusno menjadi Sukarno? Cerita Bung Karno, bapaknya menamakannya “Karna” atau “Karno” (Bahasa Jawa) berarti “Telinga”. Pengambilan nama Karna ini, karena bapak Bung Karno terinspirasi kisah Mahabharata, yang terdapat seorang lelaki pahlawan Mahabharata.

Bapak Bung Karno sangat berharap banyak dengan anak bayinya ke depan. Ia memandang Bung Karno bayi dengan pandangan jauh ke depan.

“Aku selalu berdoa, agar engkau pun menjadi seorang patriot dan pahlawan besar dari rakyatnya,” demikian doa sang bapak kepada Bung Karno bayi sambil mengelus bahunya.

Baca juga: Pak Harto dan Bung Karno di Mata Pemeran Film G30SPKI

Sang bapak berharap, Bung Karno bayi dapat menjadikan Karna kedua seperti Pahlawan Mahabharata. Meski sejak kecil Bung Karno yang akrab dipanggil Kusno, sering sakit-sakitan.

Nama Karna sama dengan Karno. Dalam Bahasa Jawa huruf “A” menjadi “O”. Sedangkan nama Soekarno dengan tambahan awalan “Su”, dalam tradisi Jawa berarti baik atau paling baik. Jadi Sukarno berarti pahlawan yang paling baik.

Sejak itu, Bung Karno memiliki nama yang sebenarnya yakni Sukarno. Menurut Cindy Adams dalam bukunya Bung Karno, Penyambung Lidah Rakjat Indonesia (1965), Bung Karno bercerita, ada seorang wartawan yang menulis bahwa nama awalku adalah Ahmad.

“Sungguh menggelikan. Namaku hanya Sukarno saja. Memang dalam masyarakat kami tidak luar biasa untuk memakai satu nama saja,” kata Bung Karno dalam buku itu.

Baca juga: Malam Gestapu 1965, Dimana Bung Karno dan Pak Harto?

Menurut Bung Karno, waktu di sekolah tanda tangannya tetap dieja dengan nama Soekarno, hal ini berdasarkan ejaan Bahasa Belanda.

“Namun setelah Indonesia merdeka, aku memerintahkan supaya segala edjaa “OE” kembali ke “U”. Ejaan dari perkataan SOEkarno sekarang menjadi SUkarno,” kata Bung Karno.

Ia mengakui pergantian ejaan dari “OE” menjadi “U” pada zaman itu tidak mudah, apalagi mau mengubah tanda tangannya yang menggunakan ejaan tersebut yang sudah berlangsung lama.

“Setelah berumur 50 tahun, jadi kalau aku sendiri menulis tanda tanganku, aku masih menulis S-O-E,” kata Bung Karno, Proklamator Kemerdekaan Indonesia bersama Bung Hatta di Jl Pegangsaan Timur 56, Jakarta, pada 17 Agustus 1945

Tanda-tangan Bung Karno dengan menggunakan nama ejaan lama “SOE” masih terus dipakai seperti dalam naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Namun pada beberapa surat dan dokumen negara namanya sudah ditulis dengan nama Sukarno bukan Soekarno. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *