Kakbah berada di tengah Masjidil Haram, tempat orang shalat dan bertawaf. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland) SumatraLink.id – Berbagai umat Islam dari penjuru dan belahan dunia mendatangi Masjidil Haram, Saudi Arabia yang di dalamnya terdapat Kakbah. Mereka shalat berkiblat menuju Kakbah dan bertawaf, mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh putaran, yang dari dulu sampai sekarang tidak berhenti putaran manusia. Tahukan awal pendirian Kakbah? As-Suddi, mufassir di zaman tabi'in wafat 127 H mengatakan, Allah Subhanahuwata’ala (SWT) memerintahkan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam (AS) dan anaknya Ismail AS membangun Baitullah. Tapi, keduanya tidak tahu tempatnya. Allah SWT mengirim angin bernama Khajuj, yang memiliki dua sayap dan kepala seperti ular. Angin Khujuj ini mengibaskan sayapnya di sekitar Kakbah sekarang, hingga terlihat sebuah pondasi awal. Ibrahim dan Ismail mencangkul pondasi tersebut. “Dan (ingatlah), ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah,” (QS. Al-Hajj: 26). Setelah terdapat pondasi, mereka mendirikan tiang. “Nak, carikan sebongkah batu yang bagus untuk aku letakkan di sini,” kata Ibrahim. “Aku malas dan letih, Ayah,” timpal Ismail. Ibrahim mengatakan kepada Ismail agar pergi mencari batu dalam kondisi malah dan letih. Tak lama, Malaikat Jibril membawa Hajar Aswad dari India. Tadinya, batu Hajar Aswad ini berwarna putih bersih. Hajar Aswad ini dibawa Nabi Adam AS dari Surga ketika turun ke dunia. Lalu, warnanya menjadi hitam, karena dosa-dosa manusia. Baca juga: Hikmah Kaum Tsamud dan Aad Dijungkirbalikkan Dalam riwayat Israiliyyat, diceritakan Ismail membawa sebongkah batu. Tapi, tiba-tiba terdapat sebongkah batu di dekat rukun. “Ayah dari mana batu ini?” tanya Ismail. “Ada seseorang yang lebih giat (tidak malas darimu) yang membawa batu itu. Keduanya giat membangun Kakbah. (Catatan penulis buku, kisah Israiliyyat ini dapat dibaca koreksi riwayatnya dalam tesis karya muridnya Dr Jamal Musthafa). “Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui,” (QS. Al-Baqarah: 127). Kakbah, tempat kiblat semua umat Muslim di dunia. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland) Menurut Ibnu Abi Hatim, ahli hadist yang wafat 327 H, Nabi Ibrahim membangun Kakbah dari bebatuan lima gunung. Dzul Qarnain, saat itu dikenal raja dunia, melintas saat Ibrahim dan Ismail membangun Kakbah. “Siapa yang menyuruh kalian berdua mendirikan bangunan ini?” tanyat Dzul Qarnain. “Allah yang memerintahkan kami,” jawab Ibrahim. “Bagaimana aku bisa memercayaimu?” timpal Dzul Qarnain. Kemudian ada lima domba berbicara dan memberikan kesaksian bahwa Allah memerintah Ibrahim untuk mendirikan bangunan tersebut. Dari kisah ini, Raja Dzul Qarnain baru beriman dan percaya. Pada akhirnya, Raja Dzul Qarnain bersama Ibrahim tawaf di sekitar Kakbah. Bangunan Kakbah (Baitul Aqiq) telah dibangun Ibrahim dan Ismail. Bangunan ini bertahan lama, hingga Kaum Quraisy merenovasinya. Saat renovasi, terjadi pergeseran bangunan Kakbah dari pondasi yang telah ditancapkan Ibrahim dan Ismail. Pondasi bergeser dari arah utara yang berhadapan dengan Syam seperti kondisi Kakbah pada saat ini. Baca juga: Tahun Terakhir Kaum Musyrikin Berhaji dan Tawaf Telanjang Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar mengambarkan dari Ibnu Umar, dari Aisyah Rodhiyallahuanha (RH), Nabi Muhammad Rasulullah Sholallahu’alaihi wassallam (SAW) bersabda, “Tidakkah kau tahu bahwa saat memperbaiki Kakbah, kaummu menggeser (nya dari pondasi) pondasi-pondasi Ibrahim.’ ‘Aku kemudia berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa kau tidak mengembalikan Kakbah (tepat) di atas pondasi-pondasi Ibrahim?’ ‘Beliau SAW mengatakan, ‘Andai saja kaummu belum lama meninggalkan kekafiran, tentu aku lakukan itu.’”. Dalam riwayat lain, “Andai saja kaummu belum lama meninggalkan kejahiliahan (kekafiran), tentu aku gunakan harta simpanan Kakbah di jalan Allah, tentu aku jadikan pintunya menyentuh tanah, dan tentu aku masukkan Hajar (Aswad) ke dalamnya,” sabda Nabi SAW. (HR. Bukhari). Pemandangan sekitar Kakbah, Masjidil Haram di waktu dini hari. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland) Pada masa kekuasaan Abdullah bin Zubair berupaya membangun Kakbah seperti diisyaratkan Nabi SAW seperti disampikan bibinya Aisyah RH, ummul mukminin. Namun, Abdullah bin Zubair dibunuh Raja Hajjaj pada tahun 93 H. Saat itu, Hajjaj mengirim surat kepada Abdul Malik bin Marwan, khalifah saat itu. Mereka menduga Abdullah bin Zubai ingin merenovasi Kakbah sesuai dengan keinginannya. Baca juga: Al Fatih Acungkan Belati Marah dengan Gurunya, Apa yang Terjadi? Pada masa Abdul Malik bin Marwan, memerintahkan agar Kakbah dibangun kembali seperti sedia kala sebelum direnovasi Abdullah bin Zubair. Mereka meruntuhkan tembok yang menghadap Syam, dan mengeluarkan Hajar Aswad dari dalam Kakbah. Mereka tutup tembok tersebut dan mereka penuhi bagian dalam Kakbah dengan batu, pintu sebelah timur ditinggikan, sementara bagian barat ditutup secara total, seperti terlihat Kakbah saat ini. Masa berjalan, Abdul Malik bin Marwan dan pengikutnya menyesal. Setelah tahu, bangunan Kakbah yang direnovasi Abdullah bin Zubair sesuai dengan kabar yang disampaikan Aisyah RH istri Nabi SAW, mereka menyesal meruntuhkan bangunan Kakbah yang dibangun Abdullah bin Zubair seperti aslinya. Baca juga: Perbedaan untuk Kebenaran "Yes", Perbedaan untuk Mencela "No" Waktu berlalu, pada masa kekuasaan Al Hadi bin Manshur, ia berupaya mengembalikan lagi bangunan Kakbah seperti bangunan Abdullah bin Zubair. Manshur meminta saran dari Imam Malik bin Anas untuk merenovasi Kakbah. “Aku khawatir kalau Kakbah dijadikan bahan permainan para raja,” jawab Imam Malik bin Anas. Maksudnya, setiap berganti raja berganti kekuasan, Kakbah terus menerus akan direnovasi sesuai dengan keinginannya. Sejak itu, kondisi bangunan Kakbah tetap utuh seperti sekarang. (Mursalin Yasland, disarikan dari Kitab Qashashul Anbiya karya Ibnu Katsir) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Hikmah Kaum Tsamud dan Aad yang Dijungkirbalikkan Berutang Seribu Dinar dengan Jaminan Allah SWT