Kebun kurma di Madinah. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

SUMATRALINK.ID – Tak banyak yang seperti Abu Dahda. Sahabat Rasulullah Sholallahu’alaihi wassalam (SAW) tak mau meninggalkan sedikit apalagi banyak soal kebaikan untuk sesama maupun untuk Allah Subhanahuwata’ala (SWT).

Tatkala mendengar turunnya Ayat Al-Quran Surah Al-Baqarah 245 yang artinya: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkakan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak….”

Abu Dahda langsung menemui Nabi Muhammad SAW.

“Wahai Rasul, apakah Robb kita menginginkan di antara kami perniagaan yang baik?” tanya Abu Dahda.

“Benar, wahai Abu Dahda,” jawa Rasul SAW.

“Wahai Rasul, bentangkanlah (tengadahkan) tanganmu!” pinta Abu Dahda.

Rasul SAW langsung menengadahkan tangannya. Abu Dahda segera menyambut tangan Rasul SAW dengan dekapan tangannya.

“Wahai Rasul, aku belanjakan pagarku (maksudnya kebun kebun kurmaku) kepada Robbku,” kata Abu Dahda kepada Rasul SAW.

Abu Dahda telah mengucapkan kalimat berarti di depan Rasul SAW, untuk mensedekahkan satu kebun kurma yang berisi 600 batang pohon kurma yang sedang berbuah siap panen.

Baca juga: 10 Hari Awal Dzulhijjah Lebih Allah SWT Cintai

Setelah mengucapkan akad perniagaan dengan Allah SWT disaksikan Rasul SAW, Abu Dahda bergegas pulang. Ia tidak ke rumah, namun langsung menuju kebun kurmanya.

Di dalam kebun yang bukan lagi miliknya tersebut, tampak istrinya dan anaknya sedang menikmati (memakan) buah kurma yang sedang ranum. Abu Dahda meminta istri dan anaknya segera keluar dari kebun tersebut.

“Wahai Ummu Dahda, keluarlah engkau bersama anakmu dari kebun kurma ini,” perintah Abu Dahda.

Istri Abu Dahda dan anaknya, Dahda, tentu kaget dengan perintah suamiya ini. Padahal, kebun kurma yang luas dan sedang berbuah tersebut sangat indah dan nikmat.

Istrinya tentu bertanya-tanya, ada apa dengan sikap dan perintah suaminya.

“Kebun kurma ini sudah menjadi barang dagangan (perniagaan/sedekah) begi Allah,” kata Abu Dahda menceritakan.

Tak banyak pula sikap ikhlas dari seorang istri seperti istri Abu Dahda ini. Apalagi harta yang mereka miliki seperti kebun kurma siap panen dengan ratusan batang kurma dengan nilai ekonomisnya sangat fantastis.

Tapi, tidak bagi istri Abu Dahda. Setelah suaminya menjelaskan perniagaan dengan Allah SWT.

“(Kalau begitu) Labbaik, wahai Abu Dahda…,” jawab istrinya, yang sholihah dan patuh kepada suami yang sholih.

Istri Abu Dahda, bersegera meminta anaknya yang sedang menguyah buah kurma dan mengeluarkan paksa sebelum ditelan.

Baca juga: Sedekah di Tanah Suci, Dibalas di Tanah Air

“Ughk… ughk… (batuk). Keluarkan kurma yang ada di mulutmu nak. Ini (sudah) milik Allah SWT,” kata istri Abu Dahda kepada anaknya.

Kisah keluarga sakinah seperti hadist yang diriwayatkan At-Thabrani, Abu Ya’la dan At-Turmudzi, memberikan gambaran betapa ikhlasnya keluarga ini ‘meminjamkan’ harta benda terbaiknya untuk Allah SWT dengan cepat dan tanpa ragu.

Semoga banyak orang terutama orang kaya yang terinspirasi dengan kepedulian antarsesama seperti Abu Dahda dan keluarganya. Wallahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *